Hari ini
Alhamdulillah dapat Tausiyah dari seorang guru lewat email. Kembali teringat saat
masih menyandang status sebagai seorang mahasiswa. Saya saat ini sangat
bersyukur pernah langsung dibimbing oleh beliau. Dan saya merasa sangat
beruntung bisa menjadi saksi tentang seseorang yang serius merencanakan apa
yang ingin dicapainya. Mulai dengan sangat detai merumuskan visi hidup sampai
perencanaan detail apa yang harus dikerjakan tahap per tahap nya. Kemudian
konsisten dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk
jurusan yang sangat ‘macho’ seperti teknik sipil, saya kira ide-ide yang sering
beliau sampaikan kepada kami mahasiswanya terlalu ‘manusiawi’ daripada sekedar ‘betoniawi’.
“Tulislah apa yang sedang kamu pikirkan!”, “Tulislah apa yang kamu rencanakan
dan langkah-langkah yang ditempuh agar perencanaan tersebut bias dicapai”, “jadilah
orang yang semakin hari menjadi semakin baik,” “Banyaklah membaca buku
pengembangan diri!” adalah sedikit dari sekian banyak nasihat beliau kepada
kami di ruangan luas bergelar ‘Laboratorium Struktur’. Himbauan-himbauan yang
menurut saya pada awalnya sangat kontras dengan gelar ruangan itu sendiri.
Tapi
kemudian saya sadari bahwa ini adalah modal awal yang bisa melejitkan potensi
seseorang di dunia manapun mereka berada. Jalan menjadi seorang engineer tidak
harus ditempuh dengan sebungkus rokok dan secangkir kopi, namun juga bisa
ditemani dengan air putih dan sebiji apel. (apaan coba J )
Kembali tentang
konsistensi, tidak banyak orang yang bisa menyelaraskan antara apa yang
disampaikan dengan apa yang dilakukan. Tapi saya beruntung bisa menjadi saksi
tentang bagaimana konsistennya beliau dengan apa yang beliau ajarkan kepada
kami. Suatu kali beliau pernah berkata ingin sekali bisa menulis sesuatu
seperti berbicara. Dan kali ini saya membuktikan perkembangan blog beliau
dimana cara penulisannya semakin baik dari judul ke judul. Membaca tulisan
beliau seperti sedang mendengarkan kisah yang idenya mengalir halus dan membawa
kita berpikir dengan runut dan sistematis. Suatu saat juga saya pernah ingat
bahwa beliau pernah mengeluhkan tentang sulitnya kontrol emosi di tempat kerja,
dan saya juga menjadi saksi tentang semakin bijaknya tema yang beliau angkat
dari posting ke posting. (hehe…).
Pernah juga
suatu hari beliau datang dengan sebuah buku catatan yang bentuknya sudah
berubah. Ketebalannya tidak lagi rata karena banyak tempelan sticky note di
sana sini. Kemudian saya tau itu adalah catatan rencana-rencana yang selalu
beliau tuangkan dalam tulisan-tulisan kecil. Catatan ini pula yang menjadi salah
satu modal beliau dalam merebut beasiswa bergengsi untuk melanjutkan PhD ke
negeri Kanguru. Sekali lagi saya menjadi saksi betapa konsistennya beliau
dengan perkataannya sendiri. Bagi saya beginilah seharusnya keteladanan
diberikan.
''Qul Amantu Billah Tsumma
Istaqim'' (Katakanlah, aku beriman kepada Allah, dan lalu bersikaplah
istiqamah!). (H.R. Muslim)

1 comments - Skip ke Kotak Komentar
da, mana tulisan tentang fenomena sosmed yang bikin anak muda bangsa ini terbiasa berpikir dangkal dan tidak analitis?
Post a Comment